
Divonis jantung, Dessi Zailina (37) cuek saja. Ia tidak terlalu serius oleh diagnosa dokter. Ia pun tetap melakukan aktifitas. Padahal saat divonis, ia sedang hamil enam bulan. Ia tetap keluar rumah, beraktifitas. Akibatnya fatal, Dessi mengalami sesak nafas. Terpaksa ia menemui dokter lagi. Dokter pun merekomendasi supaya ke Spesialis Jantung. “Jantung ibu bocor!” ujar dokter. Ia pun dirujuk ke RS Jantung Harapan Kita, Jakarta.
Dessi bukannya nurut, malah minta pulang kampung ke Palembang, untuk ziarah ke orangtua suaminya, Mazrul Jamal (39). Bukannya naik pesawat, Dessi sama suami melalui jalan darat. Usai ziarah kubur, Dessi pun kembali sesak nafas. Pulang ke Jakarta, pembantu masih mudik. Makin capeklah Dessi. Tapi dasar bandel, Dessi masih mau mengantar anak piknik ke Bandung. Sebagai akibatnya, balik ke Jakarta, sampai di rumah Dessi langsung lumpuh. Kaki kirinya tidak bisa digerakkan. Ke kamar mandi pun Dessi harus merangkak. Suami yang sedang di luar ditelpon,” Mah, mungkin itu karena asam urat tinggi,” simpul suami. Yang benar, kata dokter, efek dari jantung bocor!
Merasa sudah gawat, Dessi minta dirawat inap di klinik. Saat itu, bulan Nopember. Menurut dokter kandungan, Dessi akan melahirkan Desember. Pada hari ke-empat di klinik, Dessi anfal, sesak nafas hebat. “Saya sudah bilang ke suami, saya sudah nggak kuat, saya nggak kuat,” tuturnya.
Esok paginya, Dessi batuk darah. Tanggal 27 Nopember 2007, Dessi baru nurut masuk Harapan Kita. Di UGD dokter kebingungan. Sudah keadaan hamil tua, jantung bocor lagi! Tim dokter memutuskan, janin harus dikeluarkan. Resikonya sangat mengerikan: kematian salah satu dari keduanya, atau kedua-duanya! “Alhamdulillah, resiko itu tidak sampai terjadi. Anak ke-empat saya lahir dengan bobot 2,2 kilo,” tutur Dessi yang tinggal di Komplek Delta Mas, Cikarang.
Derita belum usai. Dua minggu setelah melahirkan, Dessi harus operasi jantung. Untungnya operasi lancar. Tapi masa penyembuhannya, enam bulan. Biayanya? Hanya rumah tinggal tersisa. Mobil, tabungan, dan sebagainya amblas! “Pokoknya habis-habisan deh,” papar Dessi.
Masih belum cukup, selama Dessi dirawat, suami harus menunggu. Hasilnya, pegawai swasta itu pun dipecat. Perusahaan tidak mau tahu. Satu bulan absen, tidak ada toleransi: out! Apalagi ini bakal absen berbulan-bulan.
Apakah yang menyebabkan Dessi selamat menjalani proses yang menakutkan itu? Persalinan lancar, operasi jantung lancar? Dessi masih ingat anak yang sulung Aldi Perdana Ramadhan, saat itu masih kelas empat SD, mengingatkan bahwa apa yang terjadi pada ibunya karena satu hal: kurang sedekah. “Anak saya bilang, waktu itu saya masih terbaring lemah di RS, Mah mungkin Mamah kurang sedekah kali, Mah.” Saya agak tersentak, tapi saya menjawab, iya mungkin Mamah kurang sedekah.” Dessi akui saat itu tak terlalu serius menanggapi anaknya.
Tapi lama kelamaan, Dessi berpikir mungkin benar peringatan anaknya. “Mungkin memang kuncinya pada sedekah. Musibah beruntun ini karena saya dan suami kurang sedekah.” Ia pun menyampaikan hal itu ke suami. Alhamdulilah, suami tanggap. Ia pun segera memesan nasi kotak 130 buah. Nasi kotak itu dikirim ke panti asuhan milik temannya. Tak lupa, Dessi menulis surat untuk anak-anak yatim. “Saya minta didoakan supaya operasi jantung saya lancar.” Dan memang, operasi jantung Dessi lancar. Padahal ia baru melahirkan ‘paksa’ anaknya, yang harusnya lahir sebulan lagi itu.
Setelah semua tuntas, tuntas pula harta untuk biaya operasi. Suami pun kehilangan pekerjaan. Dengan sisa tabungan, Jamal buka bengkel.
Ada yang mengherankan. Berkali-kali Aldi anaknya mengingatkan supaya jangan lupa sedekah. Dessi dan Jamal pun tiap bulan antar beras 50-100 kilogram ke panti asuhan milik temannya. Hasilnya, “Usaha suami saya lancar.” Avanza dan tabungan yang habis, kini diganti Allah Swt dengan yang baru: BMW dan Grand Livina. “Kami memperoleh mobil itu Agustus 2008, walau nyicil mbayarnya,” tutur Dessi.
Akhirul kisah, Dessi bersama suami Umroh, via Biro Haji & Umroh Wisata Hati.
Kaget juga Ustadz Yusuf Mansyur mendengar kisah Dessi saat mereka ketemu di Madinah, 9 Juni 2009. “Subhanallah, Mah..ternyata ada yang lebih parah dari kita. Tapi mereka, dengan barakah sedekah, selamat dari kebangkrutan,” tutur Dessi mengingat kata-kata Ustadz Yusuf. Yang lebih surprise lagi bagi Ustadz Yusuf, peringatan Allah melalui mulut anak Dessi sendiri yang baru kelas empat SD.
Sejak saat itu, Dessi dan suaminya, rajin bersedekah. Anaknya, Aldi, juga tak pernah lupa mengingatkan jika mamah atau papanya lupa bersedekah. Di sekolah, Aldi memang diajarkan rutin bersedekah oleh gurunya. Misalnya, tiap Jumat ada Infak ke Surga, dalam bentuk sedekah beras atau uang. Bahkan ada kupon sedekah yang nilai per kupon Rp 5000. Kebiasaan sedekah ini, melekat erat di benak Aldi. Ibu Dessi dan suami, patut bersyukur pada Allah mempunyai anak sholeh macam Aldi, dan tak lupa berterimaksih kepada SD Fajar Hidayah, yang mendidik Aldi minded dengan amal sedekah itu. [ApikoJM]


“Gila!” Begitu cibiran yang hampir tiap hari menyengat telinga Dani Hermawan. Cibiran sadis tersebut diterimanya, setelah ia mengambil keputusan drastis yang sangat tidak masuk akal bagi rasio awam.
Bagaimana tidak. Dani hanyalah seorang pekerja serabutan. Ia tinggal di rumah kontrakan di Bogor bersama seorang anak dan istri yang tengah mengandung anak kedua. Untuk makan sehari-haripun, Dani sekeluarga sangat terbantu oleh kebaikan mertuanya.
Nah, dalam kondisi begitu, Dani malah menguras isi kontrakannya. Bukannya untuk dijual buat makan dan beli susu anaknya, tapi justru disedekahkan.
Pencerahan sedekah Dani dapatkan, setelah nyawanya hampir melayang di ujung putus asa.
Semula, Dani Hermawan seorang supplier ayam yang cukup berjaya. Peternakannya luas, ayamnya ribuan. Mobil pengangkut ayam tiap hari keluar-masuk kandangnya. Uang setoran pun mengalir deras ke kantongnya.
Sampai kemudian, wabah flu burung menyerang. Puluhan demi puluhan ayam negeri Dani mati, sampai akhirnya ludes tak tersisa. Dani Hermawan bangkrut pada tahun 2007.
Tragisnya, hampir tidak ada sisa masa kejayaan usaha Dani. Uang yang melimpah justru membuatnya lalai untuk menyiagakan masa depan keluarga. Bahkan rumah pun mereka tak sempat punya. “Saya lalai, saya lalai,” kenang Dani sambil terisak.
Bersamaan dengan itu, Nia Kurniawati istrinya pun di-PHK dari tempat kerjanya.
Untuk melanjutkan hidup sekeluarga, Dani lalu kerja serabutan sambil “mantab” (makan tabungan) yang sedikit tersisa. Beruntung dia memiliki mertua yang baik, sehingga kebutuhan dapurnya kemudian tertalangi. Walaupun, sebagai kepala keluarga yang pernah jaya, pria ini sungguh tak enak hati hidup dalam naungan mertua.
Perasaan bersalah, malu, sekaligus khawatir, menumpuk di dada, membuat Dani Hermawan stress. Apalagi anak mereka yang kedua jelang lahir. Duit dari mana buat biayanya? Uang dari mana untuk membeli susunya? Lalu buat sekolahnya nanti bagiamana?
Masya Allah, tak kuasa menahan stress, bisikan setan pun diikutinya. Satu malam, Dani ngeloyor ke rel kereta api tak jauh dari rumahnya. Sampai di sana, dia lalu nekad membaringkan diri menyilangi salah satu rel.
Ketika kupingnya menangkap deru kereta Jabotabek dari arah Jakarta, Dani segera memejamkan mata rapat-rapat. “Sebentar lagi penderitaanku akan berakhir,” batinnya, walau dibarengi rasa takut.
Wes ewes ewes, bablas keretanya. “Lho, aku kok masih hidup,” Dani kaget ketika membuka mata. Olala, ternyata kereta api lewat melalui rel satunya.
Dani lalu memejamkan mata lagi, berharap kereta berikutnya segera lewat dan melindas tubuhnya.
Tapi, tunggu punya tunggu, si kereta tak datang jua. Sementara, Dani harus bersilat melawan gerombolan nyamuk yang mengerubutinya. Plak, plok, plaak.
Tak tahan dingin dan nyamuk, akhirnya Dani urung bunuh diri. Dengan langkah lunglai, pulang dia ke kontrakannya.
Suatu malam berikutnya, giliran bisikan malaikat yang dia ikuti. Saat iseng menyetel TV Banten, tiba-tiba Dani terpaku pada taushiyah Ustadz Yusuf Mansur. Sang Ustadz tengah menguraikan sedekah sebagai solusi problema kehidupan.
“Sedekah akan cepat bunyi bila ditunaikan dalam keadaan kita kepepet, lagi butuh, atau sangat menyayangi harta yang akan kita sedekahkan,” kata Ustadz, yang menancap betul di benak Dani.
Besoknya, dengan getol Dani mulai memburu dan melahap taushiyah Ustadz melalui radio dan televisi, juga VCD.
Melihat hobby baru suaminya, semula Nia sinis. “Aa’, yang pasti-pasti aja deh. Uang itu ya didapat dari kerja, bukan sedekah,” kata Nia yang waktu itu masih belum berbusana muslimah.
“O iya, ini juga pasti Dik. Tinggal kita yakin apa enggak,” Dani mencoba sabar. Ia maklum, dalam kondisi seperti ini istrinya jadi sensi.
Namun satu sore, Dani memergoki istrinya tengah menyimak VCD The Miracle. Tampak Nia manggut-manggut, merasa mendapat pencerahan.
“Iya ya A’, kita sedekahkan yang kita punya yuk,” katanya, disambut senyum Dani.
Tak tega rasanya Darmawan Setiadi, saat menjemput sedekah Dani di kontrakannya. Di bawah tatapan melompong putri Dani, Darmawan dan tim PPPA Daarul Qur’an mengangkut kulkas, televisi, tape, sampai ke handphone satu-satunya milik tuan rumah. Semua barang itu bakal dijual di PPPA Shop, hasilnya untuk membiayai program pembibitan penghafal Qur’an.
“Mas Dani, bagaimana kalau hape-nya tidak usah ikut disedekahkan. Mas Dani kan sangat memerlukannya,” bisik Darmawan kepada Dani.
“Oh, tidak Mas. Saya memang sudah meniatkan untuk disedekahkan bersama barang-barang lainnya. Doakan saja agar Allah memberi balasan yang terbaik buat kami,” jawab Dani mantap. Apa boleh buat. Sambil menahan tangis haru, Darmawan membawa semua barang sedekahan Dani. Tak ayal, kontrakan Dani langsung kosong melompong. Yang tersisa hanyalah almari kayu tua yang sudah tidak layak untuk disedekahkan sekalipun.
Almari itu bagian tengahnya bolong, tadinya untuk wadah TV. Setelah TV-nya diangkut, Az Zahra anak sulung Dani nyeletuk, “Yah, sekarang kita nonton tipinya bohong-bohongan ya?”
Dani menjawab dengan mengusap sayang kepala putranya. “Tenang, Nak, Allah Maha Kaya dan Maha Mengetahui,” katanya, ditingkahi senyum tulus sang istri.
Setelah itu, Dani dan Nia Kurniawati, menggetolkan riyadhoh. Mereka dawamkan amalan wajib, ditambah amalan sunnah Nabi seperti sholat tahajjaud, dhuha, dan puasa Senin-Kamis.
Saking rindunya pada Rasulullah SAW, Dani bahkan mulai membiasakan diri mengenakan baju gamis. Namun, mantan pengusaha peternakan ayam yang kini hobby-nya ke masjid itu, malah disalahpahami. Bahkan sebagian orang menganggapnya kurang waras.
“Dik, mengapa mereka tega mengataiku gila. Apakah orang tidak boleh berubah jadi baik,” keluh Dani Hermawan pada istrinya. “Sabarlah A’, insya Allah, Allah akan menunjukkan jalan,” Nia menghibur suaminya.
Kabar tentang “keanehan” Dani, rupanya sampai juga ke seorang pengusaha yang masih tetangganya. Suatu malam, Dani dipanggil ke rumah si pengusaha. Setelah menyimak kisah singkat perjalanan hidup Dani, pengusaha itu berkata, “Hobby-mu apa Dan?”
“Badminton, Pak, tapi belakangan ini sudah jarang main lagi,” Dani tersenyum.
“Ya sudah, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi.”
Saat dipanggil kembali, Dani kaget bukan kepalang. Pengusaha tersebut menjadikannya manajer Gedung Olah Raga (GOR) badminton di Jalan Soleh Iskandar, Bogor.
Selain menyewakan gedung badminton, Dani Hermawan juga mengajar kelas bulu tangkis. Dia pun melayani les privat olahraga yang sama. Ini menjadi kekuatan GOR yang dikelolanya.
“Awalnya, hanya satu klub yang menjadi pelanggan kami. Sekarang alhamdulillah, sampai harus antri kalau mau makai GOR kami,” kata Dani.
Kini, kehidupan Dani Hermawan dan istrinya bersama kedua buah hati mereka, Azzahra Putri Dani dan Juaneta Putri Dania, jauh lebih baik. Tanpa dipaksa sang suami, Nia Kurniawati sudah berbusana muslimah. Mereka sangat mensyukuri semuanya, meskipun belum memiliki rumah sendiri. (aya hasna)
(sumber buku dahsyatnya sedekah)
Sedekah Tak Terbukti “Uang Kembali !” (keyword=ikhlas!)

Suatu ketika di tahun 2006, dalam acara Islamic Book Fair di Gelora Bung Karno, ustadz Yusuf Mansur menantang jamaah. Usai sedikit memberi pengantar tentang kehebatan sedekah, Sang Ustadz berkata, “Silakan Bapak-bapak Ibu-ibu sisihkan uang untuk kami salurkan untuk kegiatan sosial.” Lalu ia bentangkan sorban di atas meja. “Perhatikanlah, sesudah Bapak dan Ibu bersedekah, apa yang terjadi. Kalau sekiranya, tidak terjadi apa-apa yang menunjukkan bahwa sedekah adalah amal ibadah yang luar biasa, bapak ibu silakan hubungi saya, uang akan saya ganti,” tantangnya.
“Tapi kalau ternyata sedekah bapak dan ibu terbukti dibalas dengan berbagai kebaikan berlipat, hubungi saya juga, lalu ceritakan kepada saya dan masyarakat agar gemar bersedekah.”
Para pengunjung itu pun satu persatu merogoh kantongnya. Di atas sorban Ustadz Yusuf Mansur pun terkumpul beberapa pecahan rupiah. Dari pecahan seribu sampai seratus ribu rupiah.
Di antara yang ikut menaruh uang sedekah di atas sorban adalah Amad Chumsoni (34). Pegawai sebuah perusahaan kontraktor itu meletakkan selembar uang limapuluh ribuan. “Saya penasaran ingin membuktikan tantangan Ustadz Yusuf Mansur,” ungkap Amad.
Seminggu ditunggu, dua minggu dinanti, tak ada kejadian istimewa.
Bulan kedua, sepertinya ada yang patut direnungkan oleh Amad.
Saat itu, istrinya hamil tua 8 bulan. Akibat ikut sinoman (membantu orang hajatan—red) acara walimahan orangtuanya, Marwita (34) istrinya, kelelahan. Takut berpengaruh terhadap janin, Amad melarikan istrinya ke rumah sakit, menjalani rawat inap. Beberapa hari saat istri masih dirawat, teman sekantor, kontak. “Pak, tolong, minta nomor rekeningmu.” Nomor rekening Amad tak berapa lama, bertambah 5 juta rupiah! Amad pun,” Apakah ini balasan dari Allah Swt atas sedekah 50 ribu saya tempo hari?” Entahlah, Amad hanya berucap syukur, karena pertolongan datang di saat yang sangat tepat.
Selang beberapa lama, Amad yang masih kuliah S2 itu ketemu temannya. “Mad, apa kamu nggak kepengin pergi naik haji?” Amad menjawab retoris,”Siapa sih orang yang tidak mau naik haji?”
Temannya lalu memberi saran, ”Kalau memang ada keinginan, lanjutkan dengan niat yang kuat untuk mewujudkan keinginan itu. Paling tidak dengan tindakan nyata. Misalnya dengan membuka rekening tabungan haji.” Amad berpikir sejenak,” Hhmm betul juga saran teman saya ini.”
Tak lama, Amad membuka rekening tabungan haji. Ia setor 900 ribu sebagai awalan. Istrinya juga ikut buka rekening haji. Setoran awal satu juta. Amad cerita ke teman-temannya, bahwa ia berencana naik haji. Seorang temannya mengingatkan, ”Hati-hati Pak Amad, kalau buka tabungan haji, nanti rezekimu jadi dasyat!”
Selain rezeki mungkin dasyat, tetapi godaannya juga cukup berat.
Tahun 2007, tabungan haji Amad dan istrinya sudah cukup. Waktu itu sudah terkumpul 54 juta rupiah. Cukuplah karena ONH memang Rp 27 juta saat itu. Diperkirakan kalau setor ONH 2007, maka ia bisa berangkat paling cepat 2009 atau 2010. Maklumlah waiting list calon jamaah haji Indonesia, bejibun.
Godaan itu pun datang. Tiba-tiba Amad berkeinginan membeli laptop. “Padahal saat itu saya sudah punya PC yang masih bagus,” katanya. Maka uang ONH cash on hand itu pun ditimang-timang. Apa sebagian mau dipakai dulu buat beli laptop atau gimana. Kan waktu hajinya, masih panjang.
Saat itu peringatan langsung datang. Di kantor, dua HP Amad hilang dicuri orang! “ Saya heran, selama ini HP saya taruh di meja kerja aman-aman saja, mengapa hari itu saya apes sekali?”
Amad pun kembali merenung. “Apa ada yang salah dengan pikiran dan tindakan saya selama ini?” Cukup lama Amad coba introspeksi diri. “Mungkin karena saya mencoba menyelewengkan uang tabungan haji untuk keperluan lain, yakni membeli laptop. Astaghfirullahal adziim,’’ Amad bersegera kembali ke niat semula, naik haji. Uangnya segera ia setor.
Sungguh aneh, tak berapa lama, kantor memberinya sebuah HP dan sejumlah uang. “Ini HP untuk menggantikan punyamu yang hilang, dan uang ini terserah mau beli HP lagi atau keperluan lain.”
Kemudahan berikut didapat Amad. Seyogyanya Amad dan istrinya berangkat 2009 atau 2010, tetapi di tahun 2008, mereka berdua sudah bisa terbang ke tanah suci.
Bahkan sebelum berangkat haji, Amad sempat ditugaskan kantor untuk ke Banjarmasin. Naik pesawatlah ia kesana. “Sepertinya saya dilatih untuk biasa naik pesawat, karena memang sebelumnya saya belum pernah naik pesawat terbang.”
Dihitung-hitung secara matematik, memang tidak bisa. Apakah semua itu karena sedekah yang ia berikan dulu. Tapi yang jelas, seusai naik haji, di rumah kontrakannya Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jaktim kedatangan tamu yang menawarkan rumah. Seorang teman yang butuh uang. Uang di kantong tak ada sepertiganya dari harga yang diminta temannya. Namun dengan bantuan pinjaman kantor dan keluarga, rumah seluas 49 meter persegi itu pun terbeli. “Alhamdulillah, Mas… saya akhirnya punya rumah sendiri, setelah sekian lama berstatus ‘kontraktor’,” ujar lelaki kelahiran Kutoarjo, Oktober 1975 ini setengah bergurau. [team daqu]
